Home » » KETIKA SEORANG PEMIMPIN MENJADI BAHAN PERBINCANGAN

KETIKA SEORANG PEMIMPIN MENJADI BAHAN PERBINCANGAN

KETIKA SEORANG PEMIMPIN MENJADI BAHAN PERBINCANGAN


Bismillaahirrahmaanirrahiimi.
Seringnya menemukan kalimat seperti berikut:
“SIAPAPUN PEMIMPIN YANG
TERPILIH TIDAK PENGARUH
BAGIKU, TOH KALAU MAU
MAKAN DAN MINUM TETAP
HARUS NYARI DAN KERJA
SENDIRI”
Saudaraku !
Cobalah kita merenung,
bagaimana keadaan negeri ini bilamana tanpa ada seorang
pemimpin? kalaupun ada, yang jadi pemimpinnya hanya asal-
asalan saja, tidak sesuai
dengan tuntunan agama, tidak adil, tidak bijaksana, tidak
mampu memimpin atau memikirkan
kepentingan umat, dll.,
sungguh ironisnya, keamanan & kesejahteraan tak kan kunjung
tegak dinegeri ini.
Adanya pemimpin yang
mampu memimpin negeri
sangatlah banyak pengaruhnya
dalam kehidupan. Bilakah kita
nyaman tinggal di negeri ini
dengan banyaknya kekerasan
atau kejahatan atau para
penjajah yang menginginkan
peperangan agar hancurnya
negeri ini. Bilakah kita bisa
tidur dan makan dengan
tenang?
Bilakah kita bisa menuntut
ilmu, mengenyam pendidikan
disekolah atau pesantren
dengan khusyu?
Bilakah kita bisa bekerja
dengan rajin dan tekun tanpa
gangguan apapun?
Adanya pemimpin, ada yang
mengatur tatanegeri, adanya
pemimpin terbentuk pula
sistem keamanan negara.
Adanya pemimpin, adanya
sistem kerjasama &
persatuan dengan saudara-
saudara kita yang berbeda,
suku dan bangsa.
Untuk itu renungkanlah
saudaraku!
Lantas kenapa adanya
pemimpin kita tetap harus bekerja dan
nyari makan sendiri?
Ingatlah wahai suadaraku!
Ketika dipilihnya para
pemimpin bukan berarti
mereka harus menjamin
kehidupan kita, sehingga kita
hidup enak, tidak usah
bekerja, tidak usah mencari
makan.
Sekalipun ketika zaman nabi
dan Rasulullah yang menjadi
pemimpinnya pada waktu itu,
yang adil, bijaksana,
& tauladan akhlaknya, bukan
berarti para sahabat dan
umatnya mendapat jaminan
makan dikasih, tidak harus
bekerja & hidup bermalas-malasa
n, tidak, tidaklah demikian.
Merekapun tetap gigih dan
giat bekerja untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya.
Saudaraku !
Yang namanya bekerja dan
mencari nafkah adalah suatu
kewajiban.
Sebagaimana dijelaskan oleh Rahmat, ST dalam artikel “Motivasi kerja dalam Islam” pada 28 juli 2010 sebagai berikut:
Mencari nafkah dalam Islam
adalah sebuah kewajiban. Islam
adalah agama fitrah, yang
sesuai dengan kebutuhan
manusia, diantaranya
kebutuhan fisik. Dan, salah satu
cara memenuhi kebutuhan fisik
itu ialah dengan bekerja.
Motivasi kerja dalam Islam itu
adalah untuk mencari nafkah
yang merupakan bagian dari
ibadah. Motivasi kerja dalam
Islam bukanlah untuk mengejar
hidup hedonis, bukan juga
untuk status, apa lagi untuk
mengejar kekayaan dengan
segala cara. Tapi untuk
beribadah.
Bekerja untuk
mencari nafkah adalah hal
yang istimewa dalam
pandangan Islam.
Motivasi Kerja Dalam Islam
Cobalah simak beberapa
kutipan hadist dibawah ini.
Anda bisa melihat bagaimana
istimewanya bekerja mencari
nafkah menurut sabda Nabi
saw. “Sesungguhnya Allah suka
kepada hamba yang berkarya
dan terampil (professional atau
ahli). Barangsiapa bersusah-
payah mencari nafkah untuk
keluarganya maka dia serupa
dengan seorang mujahid di
jalan Allah Azza wajalla”.
(HR. Ahmad).
Luar biasa, dikatakan
dalam hadits diatas bahwa
mencari nafkah adalah seperti
mujahid, artinya nilainya sangat
besar.
Allah suka kepada hambanya
yang mau berusah payah
mencari nafkah.
Saya kira, ini lebih dari cukup
sebagai motivasi kerja kita
sebagai muslim. Bahkan, kita
pun berpeluang mendapatkan
ampunan dari Allah.
“Barangsiapa pada malam hari
merasakan kelelahan dari
upaya ketrampilan kedua
tangannya pada siang hari
maka pada malam itu ia
diampuni oleh Allah”.
(HR. Ahmad)
Hukumnya Wajib
Mencari rezeki yang halal
dalam agama Islam. Ini
menandakan bagaimana
penting mencari rezeki yang
halal. Dengan demikian,
motivasi kerja dalam Islam,
bukan hanya memenuhi nafkah
semata tetapi sebagai kewajiban
beribadah kepada Allah setelah
ibadah fardlu lainnya.
Mencari rezeki yang halal
adalah wajib sesudah
menunaikan yang fardhu
(seperti shalat, puasa, dll). (HR.
Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Perlu diperhatikan dalam hadist
di atas, ada kata sesudah.
Artinya, hukumnya wajib
sesudah ibadah lain yang
fardhu. Jangan sampai karena
merasa sudah bekerja, tidak
perlu ibadah-ibadah lainnya.
Meski kita bekerja, kita tetap
wajib melakukan ibadah fardhu
seperti shalat, puasa, ibadah
haji, zakat, jihad, dan dakwah.
Jangan sampai kita terlena
dengan bekerja tetapi lupa
dengan kewajiban lainnya. Jika
Motivasi Kerja Sebagai Ibadah
Jika motivasi kerja kita sebagai
ibadah, tentu yang namanya
ibadah ada aturannya.
Memang berbeda dengan
ibadah ritual atau ibadah
mahdhah, sebab bekerja
sebagai ibadah ghair mahdhah.
Artinya, dalam kaidah ushul
Fiqh, kita memiliki kebebasan
yang luas untuk bekerja selama
tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.
Langkah pertama
agar bekerja menjadi sebuah
ibadah ialah harus diawali
dengan niat, sebab amal akan
tergantung niat. Niatkanlah
bahwa bekerja sebagai salah
satu ibadah kepada Allah.
Langkah kedua ialah
pastikan dalam bekerja tidak
bertentangan dengan ajaran
Islam. Untuk itu kita perlu
memperhatikan: Apa yang
dikerjakan? Untuk apa kita
bekerja? Apakah kita bekerja
untuk sesuatu yang dihalalkan
oleh agama? Pastikan kita
bekerja untuk sesuatu yang
tidak bertentangan dengan
ajaran agama Islam. Cara
melakukan pekerjaan kita.
Apakah cara-cara Anda bekerja
sesuai dengan ajaran Islam?
Bagaimana dengan pakaian,
batasan antara laki-laki dan
perempuan, dan sebagainya.
Etos Kerja Seorang Muslim
Jika tujuan bekerja begitu
agung. Untuk mendapatkan
ridha Allah Subhaanahu wa
ta’ala, maka etos kerja seorang
Muslim haruslah tinggi. Sebab
motivasi kerja seorang Muslim
bukan hanya harta dan
jabatan, tetapi pahala dari
Allah. Tidak sepantasnya
seorang Muslim memiliki etos
kerja yang lemah.
Coba perhatikan diatas, ada kata-
kata “susah payah” dan
“kelelahan” yang menandakan
etos kerja yang tinggi, suka
bekerja keras, dan jauh dari
sifat malas.
Jadi, tidak ada kata malas atau
tidak serius bagi seorang
Muslim dalam bekerja. Motivasi
kerja dalam Islam bukan
semata mencari uang semata,
tetapi serupa dengan seorang
mujahid, diampuni dosanya
oleh Allah SWT, dan tentu saja
ini adalah sebuah kewajiban
seorang hamba kepada Allah
SWT.
Profesional dan Ahli Dalam
hadits diatas juga disebutkan
kata profesional dan ahli. Jika
motivasi kerja Anda sebagai
ibadah, maka Anda akan
melakukannya dengan sebaik
mungkin. Anda akan terus
meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan Anda dalam
bekerja. Anda terus belajar dan
berlatih agar semakin hari
menjadi semakin ahli dalam
bekerja. Kemauan Anda untuk
belajar dan meningkatkan
kemampuan bisa dijadikan
ukuran apakah motivasi kerja
Anda untuk ibadah atau
bukan.
Adil Dalam Bekerja Salah
satu bentuk profesional itu
adalah ‘adil, yaitu
menempatkan sesuatu pada
tempatnya. Jika waktunya
bekerja, Anda bekerja. Jika
waktunya istirahat atau shalat,
Anda bisa shalat dan istirahat.
Jika tidak, maka bisa termasuk
melakukan hal yang dzalim,
tidak menempatkan sesuatu
pada tempatnya. ‘Adil juga
berarti, Anda bekerja sesuatu
tugas, wewenang, dan
tanggung jawab yang Anda
miliki. Semoga motivasi kerja
kita semua sebagai ibadah dan
dibuktikan dengan melakukan
pekerjaan sebaik mungkin.
Jadi, teruslah semangat bekerja, tulus dan ikhlas sebagai ibadah dan untuk mencari ridha Allah.
SEMOGA BERMANFAAT

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar