Home » » Khutbah Jum’at: Etos Kerja Dan Keikhlasan Dalam Islam

Khutbah Jum’at: Etos Kerja Dan Keikhlasan Dalam Islam

Khutbah Jum’at: Etos Kerja Dan Keikhlasan Dalam Islam

Khutbah Jum'at Edisi III/Jumadil Awal/1439 H

Etos Kerja Dan Keikhlasan Dalam Islam

Disusun Oleh Endang Mu'min
Photo Endang Mu'min/HumasKemenag



اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُوْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، اَلْمَوْصُوْفِ بِصِفَاتِ الْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ، الْمَعْرُوْفِ بِمَزِيْدِ اْلإِنْعَامِ وَاْلإِفْضَالِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَاَنَهُ وَهُوَ الْمَحْمُوْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ذُو الْعَظَمَةِ وَالْجَلاَلِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ الصَّادِقُ الْمَقَالِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ صَحْبٍ وَآلٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كثيرا.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, bahwa jika salah seorang diantara kalian mengambil tali lalu pergi ke gunung untuk mengambil kayu bakar lalu dipikulnya pada punggungnya, itu lebih baik batinya dari pada ia meminta-minta pada orang baik orang tersebut memberinya atau menolaknya" (HR. Bukhari)
Sebelum Islam datang, pekerjaan yang berbasis keterampilan tidak terlalu mendapat tempat di hati orang-orang kafir. Misalnya pekerjaan sebagai tukang jahit, pandai besi, tukang roti, tukang tenun, tukang kayu. Mereka menganggap pekerjaan itu adalah pekerjaan para budak. Karena itu, mereka nyaris tidak pernah mau menghadiri undangan perkawinan bila undangan itu datang dari orang dengan profesi seperti itu.
Ketika Islam datang, konsepsi tentang pekerjaan menjadi salah satu tema penting yang dibenahi oleh Islam. Islam mendorong umatnya untuk bekerja. Di dalam Al-Qur’an dengan jelas Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan,

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ 

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)

Perlahan namun pasti, Islam mulai mengajarkan kepada para pemeluknya, bahwa mengukur rasa keberartian dalam pekerjaan harus dikembalikan kepada prinsip-prinsip yang lebih mendasar. Dan tidak semata kepada perbedaan jenis pekerjaan. Sebab, tidak semua orang memiliki kesamaan jenis pekerjaan.

Dengan begitu, kemudian kita mengenal bahwa soal pekerjaan dalam Islam tidak semata apakah seseorang punya kesibukan, pekerjaan rutin, lalu mendapat upah. Tapi pekerjaan adalah bagian tak terpisahkan dari urusan keIslaman kita juga. Ada tiga prinsip utama yang dipakai Islam terkait dengan pekerjaan.

Pertama, prinsip pembalasan. Maksudnya, bahwa dalam Islam, setiap pekerjaan yang dilakukan manusia akan mendapat pembalasan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat kelak. Maka pekerjaan tidak hanya urusan yang selesai di dunia. Tapi punya mata rantainya hingga ke kehidupan akhirat. Bobot ini memberi rasa keberartian yang sangat luar biasa. Pada saat yang sama, prinsip ini akan melahirkan apa yang disebut dengan kesadaran tanggungjawab. Dengan meyakini bahwa setiap pekerjaan akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak, maka kita didorong untuk menjadi orang yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَٱسۡتَجَابَ لَهُمۡ رَبُّهُمۡ أَنِّي لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَٰمِلٖ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰۖ ١٩٥

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, …" (QS. Ali Imran : 195)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan,

 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ٤٠  ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ٤١

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An-Najm : 39 – 41)

Karena pembalasan itu baru akan terketahui secara pasti di akhirat kelak, Islam memberikan alat yang mudah untuk mengukur rasa keberartian kita dalam bekerja. Yaitu dengan mengembalikan penilaian pekerjaan itu pertama kali kepada niat kita. Dalam hadits Umar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan, “Sesungguhnya segala pekerjaan itu tergantung niatnya.” Sementara secara praktik, tentu pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang halal.

Karena itu, dalam hadits yang lain dari Aisyah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaranku maka akan ditolak.”
Tidak berlebihan bila sebagian ulama mengatakan, bahwa dua hadits itulah inti dari ajaran agama. Hadits Umar merupakan alat ukur pekerjaan secara bathin. Sedang hadits Aisyah merupakan alat ukur pekerjaan secara lahir.

Kedua, prinsip kemudahan. Maksudnya, bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan potensi, bakat, kecenderungan dan juga apa yang ia geluti dari waktu ke waktu hingga menjadi sebuah keahlian. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلٗا ٨٤

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra : 84)

Prinsip ini  merupakan landasan untuk melahirkan apa yang disebut dengan kesadaran keahlian atau kesadaran professional. Artinya, setiap orang pada dasarnya memiliki bahan atau potensi di dalam diri yang membuat dia bisa bekerja dan menekuni profesi atau keahlian tertentu. Kesadaran professional itulah yang disebut dengan itqan dan ihsan dalam Islam. Artinya seseorang bekerja dengan keahlian yang maksimal dengan kualitas yang maksimal.

Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan derajat yang berbeda antara satu orang dengan orang lain sesuai dengan kadar pekerjaannya. Inilah konsekuensi dari prinsip kemudahan itu, di mana ada orang yang sungguh-sungguh, dan ada yang kurang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِكُلّٖ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ١٣٢

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 132)
Ketiga, prinsip kemanfaatan. Maksudnya, bahwa dalam Islam, kita didorong untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan sesama. Seperti yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam haditsnya,
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ (رواه احمد, التبراني الدارقطني)

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Maka, pekerjaan yang memberi manfaat pada kehidupan ini, bagi banyak orang, tentu lebih bernilai dan berarti ketimbang pekerjaan yang hanya memberi manfaat kepada diri sendiri, atau segelintir orang, atau malah yang tidak memberi manfaat, atau malah merugikan. Dalam hal ini, kita merasa berarti atau tidak berarti dipengaruhi oleh apakah kita merasakan bahwa ada manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain dari pekerjaan kita. Ini yang disebut dengan prinsip kemanfaatan melahirkan kesadaran peran.

Pentingnya kesadaran akan peran ini, dapat kita lihat pada banyak sekali pembobotan yang diberikan Islam kepada berbagai pekerjaan. Pembobotan itulah sumber keberartian bathin yang menentramkan. Bagaimana Islam memberi penghargaan kepada para suami yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Juga para istri yang mengelola berbagai beban rumah tangga. Atau guru yang mengajarkan ilmu dan mengubah orang-orang yang lugu menjadi berilmu. Atau pengusaha sukses yang mengentaskan banyak orang miskin melalui sedekah yang memberdayakan. Semua itu ada pembobotannya secara nash dalam Islam. Ada banyak dalil yang menjelaskan keutamaan berbagai peran. Tetapi dengan kerangka umum, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Islam memandang bahwa bekerja merupakan satu kewajiban bagi setiap insan. Karena dengan bekerja, seseorang akan memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga keluarganya serta dapat memberikan maslahat bagi masyarakat disekitarnya.
Selain sebagai satu kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan yang sangat mulia bagi para pemeluknya yang dengan ikhlas bekerja mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penghargaan tersebut adalah sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits berikut :
·         Akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala
مَنْ أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ )رواه الطبراني(

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289)
·        Dihapuskan dosa-dosa tertentu yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa dan shadaqah.
إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ لَذُنُوْبًا، لاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ وَلاَ الصِّياَمُ وَلاَ الْحَجُ وَلاَ الْعُمْرَةُ، قَالَ وَمَا تُكَفِّرُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ الْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ )رواه الطبراني(

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah." Sahabat bertanya, "Apa yang bisa menghapuskannya wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Semangat dalam mencari rizki." (HR. Thabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath I/38)
·         Mendapatkan cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ )رواه الطبراني(

Dari Ibnu Umar ra bersabda, 'Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai seorang mu'min yang bekerja dengan giat." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Aushth VII/380)
·         Terhindar dari azab neraka
Dalam sebuah riwayat dikemukakan, "Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, 'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku." Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka'" (HR. Tabrani)
·         Bekerja mencari nafkah digolongkan dalam fi sabililah
Dari Ka'ab bin Umrah berkata, "Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, 'Ya Rasulullah, andaikata bekerja seperti dia dapat digolongkan fi sabilillah, alangkah baiknya.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Jika ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; Jika ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; dan jika ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fi sabilillah... (HR. Thabrani)

Riwayat-riwayat di atas sudah lebih dari cukup bagi seorang mu'min untuk menjadi motivator dalam bekerja. Oleh karenanya seorang muslim yang baik adalah yang bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Karena selain mendapatkan penghasilan untuk kehidupan dunianya, ia juga mendapatkan beribu kebaikan untuk kehidupannya di akhirat kelak.
Etika Bekerja Dalam Islam

Dalam mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bekerja yang dilakukan oleh setiap insan, diperlukan adab dan etika yang membingkainya, sehingga nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang sirna sia-sia. Diantara adab dan etika bekerja dalam Islam adalah :
1. Bekerja dengan ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ini merupakan hal dan landasan terpenting bagi seorang yang bekerja. Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia sadar, bahwa bekerja adalah kewajiban dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Ia faham bahwa memberikan nafkah kepada diri dan keluarga adalah kewajiban dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia pun mengetahui, bahwa hanya dengan bekerjalah ia dapat menunaikan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya, seperti zakat, infak dan shodaqah. Sehingga ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
2. Itqon, tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja.

Implementasi dari keikhlasan dalam bekerja adalah itqon (baca ; profesional) dalam pekerjaannya. Ia sadar bahwa kehadiran tepat pada waktunya, menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya secara tuntas, tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak mengabaikan pekerjaan, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari esensi bekerja itu sendiri yang merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam sebuah hadits, riwayat Aisyah ra, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ اِذَا عَمِلَ اَحَدُكُمْ عَمَلاً اَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبراني)

"Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, dia itqan (baca ; menyempurnakan) pekerjaannya." (HR. Thabrani).
3. Jujur dan amanah.

Etika lain dari bekerja dalam Islam adalah jujur dan amanah. Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara ukhrawi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan janji bagi orang yang jujur dan amanah akan masuk ke dalam surga bersama para shiddiqin dan syuhada'. Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi : Dari Abu Said Al-Khudri ra, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

اَلتَّاجِرُ الصَّدُوْقُ اَلأمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَأ (رواه الترمذي)

"Pebisnis yang jujur lagi dipercaya (amanah) akan bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada'. (HR. At-Tirmidzi)
4. Menjaga etika sebagai seorang muslim.

Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seorang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu'min. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan,

اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُم خُلُقًا (رواه الترمذي)

"Orang mu'min yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya." (HR. Turmudzi). 

Dan dalam bekerja, seorang mu'min dituntut untuk bertutur kata yang sopan, bersikap yang bijak, makan dan minum sesuai dengan tuntunan Islam, berhadapan dengan customer dengan baik, rapat juga dengan sikap yang terpuji dan sebagainya yang menunjukkan jatidirinya sebagai seorang yang beriman. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan bahwa terdapat dua sifat yang tidak mungkin terkumpul dalam diri seorang mu'min, yaitu bakhil dan akhlak yang buruk. (HR. Turmudzi)
5. Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah.

Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal, Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memproduksi barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi dan permusuhan), riba, risywah dsb. Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti tidak menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, membuat fitnah dalam persaingan dsb. Pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip syariah, selain mengakibatkan dosa dan menjadi tidak berkahnya harta, juga dapat menghilangkan pahala amal shaleh kita dalam bekerja. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبۡطِلُوٓاْ أَعۡمَٰلَكُمۡ ٣٣

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan janganlah kalian membatalkan/merusak amal perbuatan/pekerjaan kalian." (QS. Muhammad : 33).
6. Menghindari syubhat

Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan tertentu. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzaliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal. Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشِيْر رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: (إِنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس،ِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِه، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ ... (رواه البخاري ومسلم)

"Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan..." (HR. Muslim)
7. Menjaga ukhuwah Islamiyah.

Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan,

لَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ )رواه مسلم(

"Dan janganlah kalian menjual barang yang sudah dijual kepada saudara kalian" (HR. Muslim)

Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka; saling curiga, su'udzon dsb. Karena masalah pekerjaan atau bisnis yang menghasilkan uang, akan sangat sensitif bagi pelakunya. Kaum Anshar dan Muhajirin yang secara sifat, karakter, background dan pola pandangnya sangat berbeda telah memberikan contoh sangat positif bagi kita; yaitu ukhuwah islamiyah. Salah seorang sahabat Anshar bahkan mengatakan kepada Muhajirin, jika kamu mau, saya akan bagi dua seluruh kekayaan saya; rumah, harta, kendaraan, bahkan (yang sangat pribadipun direlakan), yaitu istri. Hal ini terjadi lantaran ukhuwah antara mereka yang demikian kokohnya.
Ranjau-Ranjau Berbahaya Dalam Dunia Kerja

Dunia kerja adalah dunia yang terkadang dikotori oleh ambisi-ambisi negatif manusia, ketamakan, keserakahan, keinginan menang sendiri, dsb. Karena dalam dunia kerja, umumnya manusia memiliki tujuan utama hanya untuk mencari materi. Dan tidak jarang untuk mencapai tujuan tersebut, segala cara digunakan. Sehingga sering kita mendengar istilah, injak bawah, jilat atas dan sikut kiri kanan. (Na'udzu billah min dzalik). Oleh karenanya, disamping kita perlu untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dalam bekerja, kitapun harus mewaspadai ranjau-ranjau berbahaya dalam dunia kerja serta berusaha untuk menghindarinya semaksimal mungkin. Karena dampak negatif dari ranjau-ranjau ini sangat besar, diantaranya dapat memusnahkan seluruh pahala amal shaleh kita. Berikut adalah diantara beberapa sifat-sifat buruk dalam dunia kerja yang perlu dihindari dan diwaspadai:
1.Hasad (Dengki)

Hasad atau dengki adalah suatu sifat, yang sering digambarkan oleh para ulama dengan ungkapan "senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang." Sifat ini sangat berbahaya, karena akan "menghilangkan" pahala amal shaleh kita dalam bekerja.Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ )رواه أبو داود(

Dari Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (iri hati), karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
2.Saling bermusuhan

Tidak jarang, ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk mendapatkan satu jabatan tertentu, atau ingin mendapatkan "kesan baik" di mata atasan, atau sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu, kemudian saling fitnah, saling tuduh, lalu saling bermusuhan. Jika sifat permusuhan merasuk dalam jiwa kita, dan tidak berusaha kita hilangkan, maka akibatnya juga sangat fatal, yaitu bahwa amal shalehnya akan "dipending" oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hingga mereka berbaikan. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا )رواه مسلم(

Dari Abu Hurairah ra berkata,bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis, maka pada hari itu akan diampuni dosa setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang sedang bermusuhan dengan saudaranya sesama muslim, maka dikatakan kepada para malaikat, “Tangguhkan dua orang ini sampai mereka berbaikan.” (HR. Muslim)
3.Berprasangka Buruk

Sifat inipun tidak kalah negatifnya. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu, kemudian menjadikan kita bersu'udzon atau berprasangka buruk kepada saudara kita sesama muslim, yang bekerja dalam satu atap bersama kita, khususnya ketika ia mendapatkan reward yang lebih baik dari kita. Sifat ini perlu dihindari karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala & Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, di samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif lainnya.Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا )رواه مسلم(

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanya perkataan. Dan janganlah kalian mencari-cari berita kesalahan orang lain, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kalian saling mementingkan diri sendiri, dan janganlah kalian saling dengki, dan janganlah kalian saling marah, dan janganlah kalian saling memusuhi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)
4. Sombong

Di sisi lain, terkadang kita yang mendapatkan prestasi sering terjebak pada satu bentuk kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. Merasa paling pintar, paling profesional, paling penting kedudukan dan posisinya di kantor, dsb. Kita harus mewaspadai sifat ini, karena ini merupakan sifatnya syaitan yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta dijadikan makhluk paling hina diseluruh jagad raya ini. Sifat ini pun sangat berbahaya, karena dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga (na'udzu billah min dzalik). Dalam sebuah riwayat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ  )رواه مسلم(

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim)
5. Namimah (mengadu domba)

Indahnya dunia terkadang membutakan mata. Keingingan mencapai sesuatu, meraih kedudukan tinggi, memiliki gaji yang besar, tidak jarang menjerumuskan manusia untuk saling fitnah dan adu domba. Sifat ini teramat sangat berbahaya, karena akan merusak tatanan ukhuwah dalam dunia kerja. Di samping itu, sifat sangat dimurkai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta dibenci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلًا يَنُمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ (رواه البخاري ومسلم)

Dari Hudzaifah ra berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersbada, “Tidak akan masuk surga seseorang yang suka mengadu domba.” (HR Bukhari Muslim)

Masih banyak sesungguhnya sifat-sifat lain yang perlu dihindari. Namun setidaknya kelima ranjau berbahaya tadi, dapat menggugah kita untuk menjauhi segala ranjau-ranjau berbahaya lainnya khususnya dalam kehidupan dunia kerja. Jadi, sekarang bekerjalah dengan niat ikhlas, hiasi dengan sifat-sifat positif dan songsonglah hari esok dengan penuh kegemilangan serta keridhaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bersyukurlah kita. Menjadi muslim artinya menjadi orang yang punya landasan ideologis kuat dalam soal pekerjaan. Ya, bekerja tidak sekedar membanting tulang atau menguras keringat. Bagi kita bekerja adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran agama kita.

Kesadaran inilah sebenarnya pilar penting kita dalam memuliakan pekerjaan. Sebab menilai pekerjaan hanya dari jenis pekerjaannya sangatlah rapuh. Sebab apapun jenisnya, setiap pekerjaan punya masa semangatnya, juga punya masa jenuhnya. Setiap pekerjaan punya saat mudahnya, juga punya saat sulitnya. Secara lahiriyah profesi kita mejelaskan apa-apa yang harus kita kerjakan. Tapi keberartian adalah apa yang kita rasakan di lubuk hati yang paling dalam ketika kita menjalani pekerjaan itu. Wallahu a’lam bishshawab.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.


Khutbah 2

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيْئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ بِكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ 

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar