Home » » Khutbah Jum'at: Mari Mengindahkan Shalat

Khutbah Jum'at: Mari Mengindahkan Shalat

Khutbah Jum'at: Mari Mengindahkan Shalat

Majalengka (Humas). Tema Khutbah Edisi kali ini membahas tentang pentingnya memperhatikan shalat terutama shalat berjamaah. Silakan bagi yang memerlukan referensi khutbah pekan ini untuk mengcopy. Adapun untuk muqaddimahnya bisa disesuaikan dengan selera. Semoga bermanfaat.


Khutbah Jum'at Edisi II/Jumadil Akhir/1439 H

Mari Mengindahkan Shalat
Disusun Oleh Endang Mu'min

Photo : Endang Mu'min/HumasKemenag



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…

الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣) 

“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3) 

Hadirin sidang jum’at rahimakumullah…
Firman Allah Ta’ala yang khotib bacakan di atas, menyebutkan salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mendirikan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Memang demikianlah adanya. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِرْكِ وَالكُفرِ تَرْكَ الصَّلاة
Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 82).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ
“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571)

Di dalam Al-Qur’an disebutkan ancaman yang menakutkan bagi mereka yang tidak mau mendirikan shalat, yakni neraka Saqar!
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣)   
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat…” (Q.S. Al-Mudatstsir: 42-43) 

Hadirin sidang jum'at rahimakumullah…
Alhamdulillah, kita adalah orang-orang yang telah mendirikan shalat. Akan tetapi, mari kita tanya diri kita masing-masing, apakah kita sudah termasuk orang yang mengindahkan shalat sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam—teladan hidup kita—telah mengindahkan dan memberikan perhatian yang besar terhadap shalat? Bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengindahkan shalatnya?
Kita semua telah mendirikan shalat. Tapi apakah kita sudah termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat fardhu berjama’ah di masjid sebagaimana sangat dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah seorang laki-laki yang buta sekalipun tidak mendapatkan rukhshah (dispensasi) untuk sendirian di rumah? Disebutkan dalam hadits Imam muslim dari Abu Hurairah ra berkata,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
Seorang buta mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasûlullâh, aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid.” Lalu ia memohon kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberi keringanan sehingga boleh shalat di rumah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan keringanan. Ketika orang buta tersebut pergi, beliau nmemanggil orang itu lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan ?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penuhilah panggilan (adzan) tersebut!” (HR Muslim, No. 1044)
Mari tanya kepada diri kita sendiri, apakah kita memiliki udzur yang menyebabkan kita merasa berhak mendapatkan rukhshah untuk tidak shalat berjama’ah di masjid? Bagi mereka yang belum melaksanakan shalat fardhu berjama’ah di masjid, saya mengajak mereka dan mengajak diri saya sendiri: “Mari kita makmurkan masjid dengan shalat fardhu berjama’ah!” Terlebih lagi shalat shubuh dan shalat isya berjama’ah! Karena ada hadits dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw bersbda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari No. 141 dan Muslim No. 651) 

Tentu tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam golongan orang-orang munafik. Tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin mendapatkan kebencian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam…oleh karena itu marilah mengindahkan shalat, yaitu dengan menjadikannya shalat berjama’ah di masjid. 

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah… 

Kalau kita menengok keadaan generasi pendahulu kita dari kalangan para sahabat dan generasi terbaik berikutnya, akan kita dapati keadaan mereka yang menakjubkan dalam hal mengagungkan kewajiban shalat berjamaah. Di masa tersebut masjid selalu didatangi oleh kaum muslimin untuk beribadah di dalamnya, meskipun bukan pada waktu-waktu shalat lima waktu. Adapun ketika datang waktu shalat, masjid pun dipenuhi oleh seluruh kaum muslimin selain yang memiliki uzur. Bahkan, orang yang sakit pun tidak ingin kehilangan dari mendapatkan keutamaan shalat berjamaah sehingga tetap menghadiri shalat berjamaah meskipun dengan berjalan dipapah. Namun , pada masa–masa sekarang ini, kenyataannya sungguh memprihatinkan. Syiar yang sangat penting ini seakan-akan tidak lagi bernilai bagi kebanyakan orang. Hal ini karena banyak di antara mereka yang mengikuti ajakan setan dan hawa nafsu serta mengikuti orang-orang yang sedikit rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wata’ala dari kalangan orang-orang yang malas dan munafikin. Tentu saja hal ini adalah kenyataan yang menyedihkan, sekaligus merupakan kejelekan dan kerugian yang sangat besar. Betapa tidak. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak mampu berjalan, bukan pula orang-orang yang tuli. Setiap hari mereka mendengar panggilan hayya ‘ala ash-shalah, hayya ‘alal falah. Namun, mereka tidak pedulikan panggilan yang mengajak pada ibadah yang mulia tersebut. Seakan-akan, mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin shalat dan tidak menginginkan keberuntungan.

Adakah kejelekan dan kerugian yang lebih besar dari ini? Sungguh, dikumandangkannya azan sehari lima kali akan menjadi hujah dan menjadi saksi bagi orang-orang yang sengaja tidak mendatangi shalat. Malaikat akan mencatat perbuatan mereka sebagai orang-orang yang tidak mau memenuhi panggilan azan. Pada hari kiamat nanti mereka akan melihat catatan amalannya. Kemudian catatan amalan tersebut akan ditimbang pada timbangan amalan.

Tidakkah mereka memikirkan akibat perbuatannya sehingga mereka bisa memperbaiki diri? Padahal, jika dipanggil untuk mendapatkan dunia yang dibagi-bagikan, tentu mereka akan mendatanginya meskipun dengan susah payah. Begitu pula jika yang memanggil adalah atasannya, tentu mereka akan memenuhi panggilannya dan takut kalau tidak segera mendatanginya akan mendapatkan teguran atau sanksi darinya. Tidakkah mereka takut dari kemurkaan Rabb yang menguasai alam semesta ini? Bagaimana mereka berani menyelisihi perintah Allah Yang Mahakuasa terhadap segala sesuatu kepada hamba-hamba-Nya? Bukankah telah Allah Subhanahu wata’ala karuniakan untuk mereka pendengaran, penglihatan, kesehatan, dan berbagai kenikmatan yang lainnya? Lalu mengapa mereka tidak mau mendatangi panggilan azan?

Sungguh, shalat berjamaah adalah bagian dari syariat yang besar dalam Islam dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala mensyariatkan agar dibangun masjid untuk kepentingan shalat berjamaah ini. Begitu pula yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sampai di kota Madinah adalah membangun masjid untuk ditegakkan shalat di dalamnya. Kemudian disyariatkanlah azan yang dikumandangkan dengan suara yang keras dari tempat yang tinggi dan ditetapkan adanya imam untuk shalat berjamaah.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah...

Shalat seorang muslim dengan berjamaah memiliki kelebihan 27 derajat dibanding dengan shalatnya sendirian. Tentu saja hal ini adalah keutamaan yang sangat besar bagi orang yang mau berpikir. Lebih-lebih lagi disebutkan dalam hadits yang sahih bahwa setiap langkah seseorang yang berjalan ke masjid untuk shalat akan membuahkan pahala yang sangat besar. Tidaklah setiap langkah yang dilakukannya kecuali akan menjadi sebab diangkatnya kedudukannya dan diampuni dosanya. Di samping itu, di saat seseorang menunggu ditegakkannya shalat di masjid maka dia juga akan mendapatkan minimal tiga keutamaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang disepakati oleh al- Imam al-Bukhari dan Muslim. Tiga keutamaan tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, dia mendapatkan keutamaan seperti orang yang menunggu daerah perbatasan saat berjihad fi sabilillah.

Kedua, selama dia duduk menunggu shalat dihitung sebagaimana orang yang mendapatkan pahala mengerjakan shalat.

Ketiga, para malaikat memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala untuknya. Bagaimana halnya jika dia ketika duduk menunggu shalat sambil berzikir atau membaca al-Qur’an? Sungguh, pahala yang sangat besar. Namun, karena banyak yang lebih mengutamakan keuntungan dunia dari akhirat, hanya sedikit orang yang berjalan ke masjid guna melakukan shalat berjamaah. Sementara itu, kalau ada pemberitahuan barang siapa mau bergabung dalam suatu usaha akan mendapatkan keuntungan 27 kali lipat dari usaha yang lainnya, maka berbondong-bondong orang ingin mendapatkannya.

Hadirin sidang jum’at rahimakumullah...

Di samping itu, shalat berjamaah juga memiliki hikmah yang sangat besar. Di antaranya, dengan ditegakkannya shalat berjamaah akan menampakkan persatuan dan kekuatan kaum muslimin. Akan tampak pula pemandangan kerukunan dan saling kasih sayang serta menghilangkan adanya sikap sombong (egois) pada diri kaum muslimin. Sebab, dalam pelaksanaannya akan berkumpul dan berdampingan dalam setiap shaf antara yang kaya dan yang miskin, pejabat dan rakyat jelata, serta yang tua dan yang muda. Tidak ada perbedaan di antara mereka semua kecuali karena ketakwaannya. Dengan demikian, semakin tampak keadilan ajaran Islam dan betapa hinanya manusia di hadapan Rabb-Nya. Maka dari itu, marilah kita tegakkan shalat berjamaah di masjid-masjid kaum muslimin. Sebelum datangnya hari di saat seseorang tidak diberi kemampuan untuk bisa bersujud di hadapan Rabb Penguasa semesta alam, yaitu orang yang saat hidup di dunia enggan untuk mendatangi shalat padahal dia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ (٤٢) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (٤٣)
“Pada hari (di saat) betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak mampu (untuk sujud). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah dan diliputi kehinaan, dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan selamat.” (QS. Al-Qalam: 42-43)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya mengindahkan shalat-shalat fardhu saja, akan tetapi beliau pun sangat mengindahkan shalat-shalat sunnah. Contohnya adalah sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان
Dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat sunnah secara berkesinambungan melebihi dua rakaat (shalat rawatib) fajar/Subuh.”
Karena demikian mengindahkan shalat sunnah fajar tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan tidak meninggalkan shalat sunnah fajar itu walaupun beliau bangun kesiangan. Dalam sebuah hadits disebutkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلمكَانَ فِى مَسِيرٍ لَهُ فَنَامُوا عَنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ فَاسْتَيْقَظُوا بِحَرِّ الشَّمْسِ فَارْتَفَعُوا قَلِيلاً حَتَّى اسْتَقَلَّتِ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَ مُؤَذِّنًا فَأَذَّنَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَقَامَ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ.
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kesiangan melaksanakan shalat Shubuh dalam satu perjalanan. Mereka (para sahabat dan Rasulullah) bangun saat matahari sudah terbit agak tinggi. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Lalu beliau shalat sunnah fajar dua rakaat (yang diikuti oleh para sahabat). Kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah dan beliau shalat shubuh (bersama mereka).” (HR. Abu Dawud No. 443) 

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengqadha shalat sunnah dzuhur di waktu ba’da Ashar, karena demikian mengindahkannya. Haditsnya sebagai berikut,

وَقَدْ أُتِيَ بِمَالٍ فَقَعَدَ يُقَسِّمُهُ حَتَّى أَتَاهُ مُؤَذِّنُ الْعَصْرِ فَآذَنَهُ بِالْعَصْرِ ، فَصَلَّى الْعَصْرَ ، ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَيَّ ، وَكَانَ يَوْمِي فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ، فَقُلْتُ : مَا هَاتَينِ الرَّكْعَتَينِ يَا رَسُولَ الله ؟! أَمَرْتَ بِهِمَا ؟ قَالَ : لاَ ، وَلَكِنَّهُمَا رَكْعَتَانِ كُنْتُ أَرْكَعُهُمَا بَعْدَ الظُّهْرِ ، فَشَغَلَنِي قَسْمُ هَذَا الْمَالِ حَتَّى أَتَانِيَ الْمُؤَذِّنُ بِالْعَصْرِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَدَعَهُمَا
“Didatangkan kepadanya (Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) harta, beliau pun duduk-duduk membagikan harta itu, sampai terdengar suara muadzin untuk adzan ashar. Kemudian Beliau melaksanakan shalat ashar, dan setelah selesai shalat, beliau pulang dan menuju rumahku (Ummu Salamah), karena hari itu adalah gilirannya di tempatku. Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat dua rakaat yang ringan (sebentar), lalu saya pun bertanya: ‘Shalat apakah ini ya Rasulullah? Apakah kau diperintahkannya?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, ini hanyalah pengganti dua rakaat ba’da zhuhur yang biasa saya lakukan, tadi saya sibuk membagikan harta hingga datang waktu ashar. Maka saya tidak suka meninggalkan dua rakaat tadi.’” (HR. Ahmad No. 26602)
Pemaparan di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa shalat adalah ibadah yang sangat penting dan memiliki tempat dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, marilah kita mengambil suri tauladan dari beliau. Jadikanlah diri kita orang-orang yang mendirikan shalat dan mengindahkannya, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mari ajak keluarga kita; tetangga dan kerabat di sekitar kita untuk mendirikan dan mengindahkan shalat. Jangan sampai generasi di zaman ini menjadi generasi yang menyia-nyiakan shalat…

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (Maryam: 59)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.


Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اَلْمُتَعَالِيْ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْمُشَاكَلَةِ لِسَائِرِ الْبَشَرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُعْتَبَرُ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ بِكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ

Related Posts

2 comments:

  1. mohon izin dicopy ustadz. Syukron

    BalasHapus
  2. bezatish furniture kunjungi website kami penjual mable jati asli Jepara. https://www.bezatishfurniture.id - www.bezatishfurniture.id - bezatishfurniture.id - Bezatish Furniture

    BalasHapus