Home » , , » Pembinaan Rohani: Memperkuat Ihsan

Pembinaan Rohani: Memperkuat Ihsan

Pembinaan Rohani: Memperkuat Ihsan

Jl. Siti Armilah No.1 (INMAS Majalengka). Hasan Mansur, S.Ag. Penyuluh Agama Islam Kec. Kadipaten berkesempatan mengisi Tausiyah pada kegiatan Pembinaan Rutin ASN di lingkungan Kantor Kementerian Agama Majalengka yang bertempat di Aula Kemenag Majalengka, Senin (19/3).

Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala mewajibkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa berbuat ihsan. Berbuat ihsan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah berbuat kebaikan. Kewajban berbuat ihsan ini juga dikuatkan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah sebagai berikut :

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴿١٩٥﴾
"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah :195)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾
"dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashsas : 77)

Bahwa berbuat ihsan, cakupannya sangat luas. Secara bahasa ihsan artinya (puncak) kebaikan, atau ikhlas dan berbuat sebaik mungkin (itqan). Sedangkan secara istilah, ihsan adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahwa berbuat ihsan, cakupannya sangat luas. Secara bahasa ihsan artinya (puncak) kebaikan, atau ikhlas dan berbuat sebaik mungkin (itqan). Sedangkan secara istilah, ihsan adalah mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan menyempurnakan pelaksanaannya seakan-akan kita “melihat” Allah Subhanahu Wa Ta'ala saat beribadah, atau (jika tidak mampu hingga ke derajat tersebut) kita merasakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyaksikan apapun yang kita kerjakan hingga kepada hal yang sekecil-kecilnya. Sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadits Jibril :

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Kemudian ia berkata lagi: “Beritahukanlah padaku tentang Ihsan.” Rasulullah s.a.w. menjawab: “hendaklah engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau dapat melihat-Nya, tetapi jikalau tidak dapat seolah-olah melihatNya, maka sesungguhnya Allah itu dapat melihatmu.“ (HR. Muslim) dengan menyempurnakan pelaksanaannya seakan-akan kita “melihat” Allah Subhanahu Wa Ta'ala saat beribadah, atau (jika tidak mampu hingga ke derajat tersebut) kita merasakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyaksikan apapun yang kita kerjakan hingga kepada hal yang sekecil-kecilnya.

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak.

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”

Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang—yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits :

اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَ خْلَاقِ
“Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar