Home » » Menjaga Konsistensi Bimbingan Pra Nikah di Tengah Keterbatasan

Menjaga Konsistensi Bimbingan Pra Nikah di Tengah Keterbatasan

Menjaga Konsistensi Bimbingan Pra Nikah di Tengah Keterbatasan


Cigasong (Inmas Majalengka).

Menjaga tradisi Bimbingan Pra Nikah di tengah segala tantangan dan keterbatasan sudah seharusnya menjadi komitmen seluruh Kantor Urusan Agama Kecamatan khususnya di lingkungan kemenag kab. Majalengka.
Meminjam krangka pikir Prayitno, Bimbingan Pra Nikah merupakan upaya mendorong dan memotivasi calon pengantin agar mampu mengembangkan potensi diri untuk memahami diri, pasangan dan lingkungannya demi menghadapi hambatan dan menentukan rencana masa depan yang lebih baik.
Secara konseptual, tantangan tersebut telah dirumuskan oleh Dirjen Bimas Islam dengan Program Bimbingan Pra Nikah masal. Program ini terpilih menjadi salah satu program unggulan bidang ketahanan keluarga yang terbukti sangat berkualitas dan mampu menghadirkan pemahaman mendalam tentang hakikat dan makna pernikahan dalam diri calon pengantin.
Pada tahap implementasi, ternyata program ini secara kuantitatif hanya mampu menjangkau Sekitar 10 persen calon pengantin (catin) sebagai contoh kalkulasi, untuk kasus KUA Kecamatan Cigasong : dari 290 pasangan hanya sekitar 30 pasangan yang ikut Bimbingan masal.
Alternatif lain sebagai solusi adalah Bimbingan Pra Nikah Mandiri. Untuk Bimbingan mandiri ini, Keterbatasan SDM dan minimnya anggaran sering menjadi masalah internal yang cukup realistis Di samping itu, Kesibukan dan aktivitas yang padat para calon pengantin, umunya menjadi alasan klasik ketidak hadiran mereka mengikuti
bimbingan.
Padahal jika disadari oleh para catin, kehadiran mereka mengikuti bimbingan, di samping mendapatkan ilmu dan wawasan sebagai bekal mengarungi bahtera rumah tangga, bimbingan ini sebagai wahana menjaga tradisi tabayun (cek and recek) terhadap data-data administratif untuk menghindari berbagai kesalahan. Banyak kasus-kasus yang ditemukan oleh para penghulu di lapangan yang cukup tragis, seperti : calon pengantin pria urung hadir pada hari dan waktu yang telah ditentukan, calon pengantin wanita lari sehari sebelum akad dan kesalahpahaman waktu akad antara petugas dan keluarga catin. Kejadian-kejadian tersebut terjadi di dunia nyata, bukan sekedar cerita-cerita pada drama dan sinetron.
Rasanya jika konsistensi pelaksanaan Bimbingan Pra Nikah tetap terjaga di tengah segala keterbatasan, kasus-kasus tersebut setidaknya dapat diminimalkan. (Idi/Uli)

Kontributor: Taupik Hidayat

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar