Home » » Pengajian Rutin Kemenag Majalengka: "Membangun Keikhlasan Kolektif"

Pengajian Rutin Kemenag Majalengka: "Membangun Keikhlasan Kolektif"

Pengajian Rutin Kemenag Majalengka: "Membangun Keikhlasan Kolektif"

Majalengka (INMAS Majalengka). Membangun keikhlasan bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan bisa dibilang sangat sulit terlebih jika harus membangun keihlasan kolektif. "Pimpinan ikhlas, staf tidak ikhlas, bapaknya ikhlas anaknya tidak ikhlas" begitulah ilustrasi susahnya membangun keikhlasan kolektif. Demikian salah satu ungkapan Idi, S.Ag Kepala KUA Cigasong saat memberikan tausiyah di Aula Kemenag Majalengka, pasca apel pagi, Senin (14/1/19).
 
Terkait membangun keikslasan kolektif, Kepala KUA Cigasong tersebut menjelaskan, bhawa hal ini terinsfirasi dari tafsir makna" menjaga" dalam surat at-tahrim ayat 6. Menurutnya, Keikhlasan Kolektif bisa diupayakan melaluai dua hal :

1. Ta'lim
Ini adalah upaya memahamkan misi, visi dan motto, sehingga sifatnya lebih kognitif. Kalau dalam keluarga bisa dilakukan dengan memaham kan prinsip-prinsip agama
2. Ta'dib
Bagaimana agar yang sudah dipahami dapat dilaksanakan, dibiasakan. Ini perlu bimbingan, keteladanan perencanaan, pengawasan dan evaluasi secara konsisten.
 
Dijelaskan Idi, perjalanan niat itu jangan dari makhluk ke makhluk namun harus dari makhluk kepada kholik. Oleh karena itu, ketika beramal jangan disandarkan untuk makhluk namun benar-benar harus disandarkan kepada Allah dan diperuntukkan untuk amal akhirat.
 
Terkait ikhlas, Idi mengutif pendapat Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah. Ia berkata,
 
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ
 
“Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).
 
Pernyataan, beramal karena manusia termasuk syirik. Pernyataan ini benar adanya karena berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan kewajiban ikhlas karena Allah dalam ibadah dan diharamkannya riya’ (pamer amalan). Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyebut riya’ dengan syirik ashgor dan perbuatan inilah yang paling dikhawatirkan menghidap pada umatnya.
 
Adapun pernyataan, meninggalkan amalan karena manusia itu riya’, maka itu tidak secara mutlak. Ada perincian dalam hal itu dan intinya tergantung pada niat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” Jadi niat ini yang jadi patokan, ditambah amalan tersebut harus bersesuaian dengan tuntunnan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini berlaku pada setiap amal.
 
Sedangkan menurut Abu Hudaifah, Ikhlas itu keseuaian antara ucapan, hati dan perbuatan.
Kemudian Ibnu Athaillah menyebutkan tingkatan Ikhlas
 
Tingkatan ikhlas :
1. Aabidin: Ikhlas orang yang beribadah dilakukan karena adanya surga dan neraka, artinya ibadah karena ada reward and punishment
2. Muhibbin: Ikhlas orang yang cinta maka dia melakukan amal karena cinta kepada Allah, bukan karena ada surga neraka.
3. Arifin: Ikhlas 'arifin yaitu ikhlasnya orang yang sudah ma'fifat memiliki tingkatan kedekatan dengan Allah melebihi yang lainnya.
 
Kontributor: Taupik Hidayat

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar