Home » , » Pembinaan Rutin Kemenag Majalengka; Tiga Hal Yang Harus Kita Muhasabah

Pembinaan Rutin Kemenag Majalengka; Tiga Hal Yang Harus Kita Muhasabah

Pembinaan Rutin Kemenag Majalengka; Tiga Hal Yang Harus Kita Muhasabah



Majalengka (INMAS Majalengka).
Kegiatan yang rutin dilaksanakan dilingkungan Kemenag Kab. Majalengka pada setiap senin adalah apel pagi, tadarus bersama, baca asmaul husna dan pembinaan rohani. Inilah rangkaian kegiatan religi yang sudah menjadi agenda wajib di Kemenag Majalengka. Pada pembinaan rutin kali ini, Senin (18/2/19) H. Jalaludin, M.Ag. penyuluh Kec. Bantarujeg didapuk sebagai pembicara.
 
Pada kesempatan tersebut, Jalaludin menyampaikan materi mengenai Muhasabah dan Aspek-Aspeknya. Menurutnya, kita semua harus bermuhasabah atau menghitung amal kita masing masing. Kita harus menghitung amal perbuatan kita sebelum amal perbuatan kita diperhitungkan.
 
Muhasabah itu merupakan alat kontroling terhadap amal perbuatan kita. Kita semua harus menghitung kira-kira selama ini lebih banyak berbuat amal baik atau berbuat amal buruk. Inilah yang dinamakan evaluasi supaya ada perbaikan jika ada kekurangan.
 
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa kang Jalal tersebut menjelaskan, ada tiga aspek yang harus dimuhasabah.
 
Pertama, aspek Ibadah (Hablumminallah). Kita terkadang sibuk dan lelah dengan ibadah yang banyak namun banyak cacatnya. Itulah yang menyebabkan manusia masuk neraka. Jadi ibadah itu bukan hanya sebanyak-banyaknya, namun harus sebenar-benarnya. Banyak dan benar serta ikhlas harus menjadi satu kesatuan.
 
Ibadah yang banyak yang kita anggap sudah baik dan sempurna belum tentu baik dan sempurna dihadapan Allah. Seperti halnya kain yang kita anggap baik dan sempurna ternyata dimata ahli kain, kain yang kita anggap bagus dan sempurna justru buruk dan banyak cacatnya.
 
Selain harus banyak dan benar, ibadah juga harus ikhlas. Ibadah harus memiliki niat yang ikhlas dan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sejauh mana ibadah kita kepada Allah maka sejauh itu pula evaluasi yang ada pada kita. Dengan ilmulah kita dapat mengukur kepantasan dan kelayakan amal ibadah kepada Allah.
 
Kedua, aspek pekerjaan dan cara memperoleh rezeki. Kita semua harus jeli meneliti apakah pekerjaan dan rezeki yang kita peroleh halal atau haram. Sesuatu bisa jadi halal atau haram tergantung dari bagaimana cara memperolehnya atau mendapatkannya. Sesuatu dzat yang halal akan menjadi haram ketika tidak seusai dengan apa yang diinginkan oleh Allah. Cara kita memperoleh rezeki bisa menjadi penghalang terkabulnya doa dikarenakan rezeki yang dikonsumsi memiliki unsur haram. Mari kita instrospeksi diri, apakah pekerjaan dan rizki kita halal?
 
Ketiga, Aspek sosial kemasyarakatan. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari orang lain. Setiap apa yang kita makan maupun yang kita pakai, pasti akan sangat berkaitan dengan orang lain. Satu suap makanan yang masuk kedalam mulut kita, didalamnya terdapat ribuan jasa orang lain. Itulah karena kita merupakan makhluk sosial yang akan senantiasa membutuhkan satu dengan yang lainnya. Tidak mungkin kita akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
 
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, manusia terbagi ke dalam beramal kelompok. Pertama ada orang yang muflis yaitu orang yang meninggal dengan memiliki amalan yang banyak namun amalnya habis karena membayar hutang amal kepada orang lain yang telah didzalimi selama hidupnya. Kedua, orang yang senantiasa memberikan manfaat untuk orang lain dan orang lainpun mendapatkan manfaat dari dirinya. Ketiga orang yang berada diantara keduanya. Jika tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain, maka janganlah merugikan orang lain.
 
Kontributor: Taupik Hidayat

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar